“Pause” Your Life

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang sepanjang masa kecil hingga dewasa hidup dalam kemiskinan. Ia harus membiayai kuliahnya dengan uang hasil kerjanya. Setelah  lulus, ia kemudian menikah dan hidup bersama dengan istri dan kedua orang anak yang sangat dikasihinya. Diceritakan dalam kisah itu, betapa laki-laki ini begitu bergairah dalam mengejar karier sehingga ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pengejaran itu. Tingkatan demi tingkatan ia raih, hingga tanpa terasa ia telah menjalani kehidupan seperti itu hampir sepuluh tahun lamanya. Selama waktu-waktu itu, ia telah melimpahi istri dan anak-anaknya dengan berbagai fasilitas yang mewah : rumah yang megah, mobil yang mewah, dan banyak lagi fasilitas hidup mewah yang lainnya. Ia merasa bahwa apa yang telah diraihnya telah memberikan kebanggaan dan kebahagiaan untuk keluarganya. Sampai suatu waktu…, ketika ia memperoleh waktu luang yang agak panjang (yang sangat jarang sekali diperolehnya) , ia bermaksud mengajak anak-anaknya yang telah remaja untuk menikmati liburan keluarga bersama, betapa kaget dan kecewa hatinya saat ia mendapati bahwa anak-anaknya tidak peduli dan tidak ingin pergi bersamanya. Dimata mereka ia telah menjelma menjadi makhluk yang aneh dan asing.  Ia terluka…., dan berteriak, “ini sangat tidak adil ! aku sangat mengasihi mereka, dan aku telah memberikan semuanya untuk mereka, mengapa mereka memperlakukan aku seperti ini ? Istrinya yang bijak kemudian menghampirinya dan berkata,” mereka memang memerlukan hasil pekerjaanmu, tetapi lebih dari semua itu, mereka sangat memerlukan kehadiranmu”. Laki-laki ini kemudian menyadari bahwa ia sangat egois, bahwa sesungguhnya selama ini ia telah menjalani hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Kehidupan yang sedang kita jalani hari-hari ini bergerak dengan kecepatan yang semakin tinggi, sebagai akibatnya para pelakunya juga dituntut untuk bertindak dengan cepat. Kita seolah-olah didorong untuk memutuskan dengan cepat pilihan-pilihan yang harus kita ambil. Seringkali tanpa sadar kita kemudian mengambil sebuah pilihan yang kita anggap benar berdasarkan pemahaman dan pengalaman kita, tanpa sempat merenungkannya dalam waktu yang cukup, apalagi meletakkannya di dalam saat-saat hening di dalam doa.

Firman tuhan dalam I Petrus 4 : 7 mengingatkan kita bahwa :” kesudahan segala sesuatu sudah dekat, karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Sangat jelas dalam ayat ini, bahwa kehidupan yang bergerak dengan sangat cepat hari-hari ini adalah representasi dari kesudahan segala sesuatu yang sudah sangat dekat. Iblis sangat mengerti bahwa waktunya sudah sangat singkat, karena itu, ia membuat dunia bergerak dengan cepat sehingga  ia bisa membawa manusia sebanyak-banyaknya ke tempat tinggalnya. Terlebih ditambah dengan materialisme dan egoisme yang memang telah dinubuatkan oleh Firman Tuhan akan menjadi sifat-sifat manusia di akhir jaman, jebakan ini menjadi sangat efektif dan mematikan.

Kalau begitu, bagaimanakah kita seharusnya bersikap agar tidak masuk dalam jebakan ini ?

1. Menguasai Diri

Kita harus memilih untuk tidak terseret oleh arus materialisme yang semakin hari semakin mengarah kepada hedonisme. Berusaha untuk terus memilih kehidupan yang lebih sederhana ditengah arus kemewahan dan kecanggihan fasilitas yang tentu saja akan memaksa setiap orang yang terpikat olehnya untuk membayar dengan harga yang semakin besar. Dengan memilih untuk hidup lebih sederhana, kita akan menjalani hidup ini dengan lebih tenang.

2. Berdoa

Menutup pintu kehidupan kita secara berkala dari kejaran kesibukan yang menumpuk dan dengan sadar memasuki keintiman dalam keheningan bersama dengan Tuhan akan memberikan kelegaan dan kelepasan yang sangat kita butuhkan. Lebih daripada itu, kita akan menemukan apa yang menjadi rencana dan kehendakNya yang harus kita lakukan dalam menjalani hidup ini. Bukankah Firman Tuhan dalam Yesaya 55 : 8-9 berkata bahwa rancangan Tuhan sangat berbeda dengan rancangan manusia, seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya rancangan-Nya dari rancangan kita. Dan Amsal 19 : 21 berkata bahwa: “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana”.

Disinilah sebenarnya titik pangkal permasalahan yang tidak diketahui oleh laki-laki dalam kisah di atas. Dia telah mengambil pilihan dan melakukan segala hal berdasarkan rancangannya sendiri yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya yang pahit. Berpikir bahwa istri dan anaknya jangan sampai mengalami hal yang pernah dialaminya. Sampai pada titik ini, semuanya seolah terlihat baik dan benar dalam pemandangannya, tetapi ketika sampai di ujungnya, barulah ia menyadari bahwa ia telah berlari di jalur yang salah.

“Pause” hidup kita secara berkala disepanjang perjalanan, untuk memastikan bahwa kita masih berada di jalur yang benar dan masih mengerjakan apa yang menjadi rencanaNya. Sukses ! ! ! Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: