Faith in Actions

Suatu pagi saat pulang dari mengantar istri ke tempat kerja, sambil berkendara saya menyalakan radio dan mendengarkan sebuah program renungan pagi dari seorang hamba Tuhan. Dalam renungannya, hamba Tuhan ini mengatakan bahwa : “Tidak semua orang yang ke gereja masuk ke sorga, tidak semua orang Kristen masuk ke sorga, tidak semua aktivis Kristen masuk ke sorga, bahkan tidak semua pendeta masuk ke sorga.” Pernyataan ini mungkin terkesan vulgar dan keras, tetapi pernyataan ini sungguh benar !, karena pernyataan ini sebenarnya adalah kutipan bebas dari kata-kata Tuhan Yesus di dalam Matius pasal 7. Ketika saya merenungkan kebenaran ini sepanjang perjalanan pulang ke rumah, sejujurnya saya harus mengakui betapa di dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya dan mungkin juga sebagian orang Kristen yang lain seringkali masih bersikap dan berperilaku seolah-olah keselamatan yang telah diterima sebagai suatu anugerah adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang, sesuatu yang seolah-olah pasti akan terjadi walau apapun juga sikap dan tingkah laku kita. Benarkah demikian ?

Memang ada ayat Firman Tuhan yang mengatakan bahwa jika kita percaya di dalam hati, dan mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, maka kita akan diselamatkan. Tentu kita semua sepakat dengan ayat ini, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah : Bagaimanakah implementasi dari iman percaya itu dalam kehidupan kita sehari-hari ? Apakah itu juga berarti Tuhan peduli dengan kualitas bahan yang kita gunakan dalam implementasinya dan prosesnya ?

Kalau kita memperhatikan di sekitar kehidupan sehari-hari, Tentu kita sama-sama setuju bahwa kualitas dari sebuah hasil akhir ditentukan oleh kualitas bahan yang digunakan, dan itu berarti bahwa penggunaan bahan yang berbeda akan memunculkan hasil yang berbeda. Rasul Paulus di dalam satu suratnya mengingatkan kepada setiap orang Kristen, agar memperhatikan bahan apakah yang kita pakai untuk membangun, apakah kita membangunnya dengan menggunakan emas, perak, tembaga, kayu atau jerami, disini  rasul Paulus sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa kualitas hasil akhirnya tergantung dari bahan apa yang kita pakai. Kita memang tidak sampai kehilangan keselamatan kita, tetapi tentu harus ada harga yang lain yang harus kita bayarkan untuk menjadi kualitas yang sesuai dengan standard.

Bagaimana dengan prosesnya? Dalam Matius pasal 7 yang telah saya singgung di atas,Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan ! akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”  Bahkan di ayat selanjutnya tercatat ayat yang mengatakan dengan sangat keras bahwa : “Pada hari-hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga ? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan !” Jika Tuhan Yesus sampai mengatakan hal yang demikian kepada orang-orang tersebut, hal ini pasti karena sekalipun mereka telah bernubuat demi nama-Nya, mengusir setan demi nama-Nya, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Nya, tetapi mereka melakukannya dengan proses yang sangat-sangat salah. Mereka melakukannya tidak dengan kasih, dalam kehendak mereka sendiri dan tidak untuk kemuliaan Tuhan. Dengan demikian pesan Tuhan menjadi jelas bagi kita bahwa : Proses kehidupan kristen yang kita jalani adalah sesuatu yang sangat-sangat serius, jauh lebih penting dari kualitas bahannya. Kalau kualitas bahan tidak sampai membuat kita kehilangan keselamatan, maka kualitas proses ternyata akan dapat membuat kita kehilangan keselamatan kita.

Sekarang kita menjadi lebih mengerti bahwa: Hakekat dari percaya dan pengakuan kita kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sesungguhnya adalah iman yang ter-aplikasi di dalam kehidupan melalui perbuatan kasih. Sebagaimana Yakobus mengatakan , “Demikian juga halnya dengan Iman : Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Ini bukan berarti bahwa keselamatan kita tergantung dari perbuatan-perbuatan kita, sama sekali bukan seperti itu. Jelas bahwa kita tidak akan pernah masuk ke dalam kerajaan sorga melalui perbuatan-perbuatan kita, karena sebaik apapun perbuatan-perbuatan kita, sesungguhnya sejak dilahirkan kita telah berada di jalur yang salah, dengan arah yang salah, sehingga tentu saja tidak akan pernah mencapai garis finis. Justru Yesus datang sebagai Juruselamat untuk mengembalikan kita ke jalur yang benar dan menuju ke arah yang benar, supaya kita dapat mencapai garis finis.

Jadi…., marilah kita sekarang menjalani kehidupan Kristen ini dengan perbuatan-perbuatan kasih, sehingga iman percaya kita tidak didapati sebagai iman yang mati.

Bagaimana menurut pendapat anda ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: