Shalom Family (part.1)

Setiap keluarga, tidak terkecuali keluarga Kristen, pasti pernah diperhadapkan dengan persoalan-persoalan yang cukup berat yang dapat mengancam keutuhan bahtera rumah tangga mereka. Sebagian dari persoalan-persoalan itu mungkin akibat dari kesalahan orang lain, sebagian mungkin akibat dari kesalahan sendiri, dan sebagian sisanya mungkin akibat gabungan kesalahan dari keduanya. Namun apapun juga yang menyebabkannya, seharusnya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pasangan suami istri untuk tetap mempertahankan bahtera rumah tangga mereka sebagai bentuk komitmen terhadap janji nikah yang pernah di-ikrarkan dihadapan Tuhan dan manusia. Sekalipun demikian, fenomena perceraian dalam keluarga Kristen semakin sering terjadi akhir-akhir ini, keputusan untuk bercerai seolah semakin mudah untuk diputuskan, dan ketika ditanyakan mengapa mereka tidak lagi memegang teguh komitmen janji nikah yang telah di-ikrarkan, jawaban-jawaban yang terlontar seringkali adalah jawaban yang menyalahkan Tuhan, oranglain (suami / istri) dan keadaan, sehingga mereka “terpaksa” harus mengambil keputusan untuk bercerai daripada mempertahankan keutuhan bahtera rumah tangga mereka.

Sebagai miniatur dari representasi kerajaan sorga di dunia, kehadiran keluarga Kristen seharusnya dapat menjadi tempat dimana orang-orang disekelilingnya bisa melihat dan mencicipi suasana sorgawi. Keberhasilan untuk menjadi keluarga yang dipenuhi damai sejahtera akan menjadikannya sebagai terang dan garam yang menerangi dunia yang gelap dan memiliki dampak yang efektif untuk menjangkau jiwa-jiwa.  Sebaliknya, kegagalan keluarga Kristen dalam menjalani dan mempertahankan keutuhan bahtera rumah tangganya juga akan memiliki dampak negatif yang luas terhadap kekristenan secara umum. Dengan posisi strategis seperti ini, maka menjadi sangat penting bagi setiap keluarga Kristen untuk dapat memahami dan menjalani kehidupan rumah tangga mereka sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga mereka menjadi berhasil dalam mengemban misi sorgawi.

Alkitab mengajarkan, ada empat hal dasar yang sangat perlu diperhatikan oleh pasangan suami istri. Ke-empat hal dasar ini harus benar-benar menjadi landasan berpikir dan bersikap ketika mereka bersama-sama membangun dan menjalankan bahtera rumah tangga, yaitu :

1. Keluarga diciptakan oleh Tuhan

Keluarga sesungguhnya adalah lembaga yang diciptakan oleh Tuhan sendiri, kitab kejadian pasal satu menjelaskan bagaimana awal mula terciptanya keluarga. Berfirmanlah Tuhan,”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan  menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Dalam Matius 19 :6,firman Tuhan berkata,”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Melalui kedua ayat firman Tuhan ini, jelas sekali bahwa Tuhan adalah pencipta dari keluarga, Dia-lah yang telah mempertemukan dan mempersatukan dua orang anak manusia untuk membentuk sebuah keluarga. Mungkin setiap orang Kristen sudah sangat hafal dengan kedua ayat di atas, tetapi implikasinya mungkin masih banyak yang belum memahaminya.

Jika Tuhan adalah pencipta keluarga, implikasi yang paling mendasar yang harus dipahami oleh setiap pasangan suami istri adalah bahwa Tuhan sangat mengasihi dan sangat peduli dengan apa yang telah diciptakan-Nya. Kalimat “Tidak baik, kalau manusia seorang diri……” dapat dimaknai bahwa keluarga diciptakan untuk tujuan kebaikan bagi manusia, oleh karenanya, ketika kita ada di dalam keluarga maka itu berarti Tuhan yang Maha Kuasa, yang Dahsyat dan Luar Biasa sedang membawa kita untuk menuju kepada kebaikan. Siapakah yang dapat mencegah-Nya ? Pemahaman ini seharusnya membuat kita tidak lagi khawatir terhadap apapun juga, sekalipun kita mengalami berbagai macam persoalan, selama kita masih tetap berada di dalam bahtera rumah tangga, itu artinya kita masih berada di dalam tangan Tuhan yang kuat yang sedang membawa kita menuju kebaikan.

2. Bersyukur-lah senantiasa

Hal kedua yang diajarkan oleh Alktab dalam menjalani kehidupan rumah tangga adalah bersyukur. Tuhan memerintahkan (bukan hanya mengatakan) agar kita senantiasa bersyukur dalam segala hal ( I Tes. 5:18 ), baik pada saat senang maupun susah, pada saat sehat maupun sakit, juga pada saat situasi sedang baik maupun buruk, ini berarti kita harus bersyukur untuk segala hal yang telah Tuhan berikan dengan tidak membanding-bandingkannya dengan apa yang diterima oleh orang lain. Kecenderungan untuk membanding-bandingkan, biasanya dengan orang yang melebihi dirinya, akan menjadi hal yang sangat berbahaya dalam kehidupan rumah tangga.

Pasangan suami istri harus belajar mendisiplin dirinya untuk bersyukur dan tidak terjebak untuk membandingkan apapun juga yang ada di dalam rumah tangga mereka dengan apa yang ada di dalam rumah tangga orang lain. Terlebih jika mulai terjebak membandingkan pasangan atau ekonomi keluarga, ini adalah dua hal yang sangat berbahaya yang dapat dengan cepat menghancurkan bahtera rumah tangga. Tuhan menciptakan setiap manusia secara khusus, dan ketika IA mempersatukan dua orang anak manusia dalam satu lembaga keluarga, maka Tuhan juga memberikan hal-hal yang khusus yang berbeda satu dengan yang lain, sehingga dengan begitu kita tidak perlu membandingkan.

Pemahaman kita akan tanganTuhan yang kuat yang senantiasa memegang tangan kita untuk menuntun menuju kebaikan, seharusnya dapat menjadi dasar yang kokoh untuk kita bisa selalu bersyukur dalam segala situasi dan kondisi.

Iklan

5 Responses to Shalom Family (part.1)

  1. Mas Ben berkata:

    Halo. apa kabar Pak ?
    Maaf mampir buru-buru nih 🙂

    Salam damai
    Mas Ben

  2. Mas Ben berkata:

    Selamat hari Sabtu Pak 🙂
    Hheheh, maaf kemarin buru-buru sayanya. Soalnya banyak yang mesti disiapak menjelang audit. Puji Tuhan audit tanggal 24 kemarin berjalan lancar dan aman 🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  3. Mas Ben berkata:

    Selamat hari Sabtu Pak 🙂
    Hheheh, maaf kemarin buru-buru sayanya. Soalnya banyak yang mesti disiapkan menjelang audit. Puji Tuhan audit tanggal 24 kemarin berjalan lancar dan aman 🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: