Shalom Family (part.2)

3.  Ketulusan hati

Ketulusan hati merupakan hal berikutnya yang harus kita miliki. Alkitab berkali-kali mengatakan di dalam kitab Mazmur dan Amsal bahwa Tuhan mengasihi dan melindungi orang yang memiliki ketulusan, Dia akan memberikan keadilan dan meyelamatkan mereka yang tulus hatinya. Ketulusan hati akan membuat Tuhan menjadi penopang yang kokoh bagi setiap orang yang memilikinya. ( Mzm. 73:1 ; Mzm. 41:13 ; Ams. 10:29 ; Ams. 14:32 )

Keluarga yang terbentuk dari bersatunya dua orang anak manusia, tentu akan mengalami proses-proses penyatuan yang tidak sebentar, bahkan ini merupakan proses seumur hidup. Dalam perjalanan penyatuan ini, tentu kita akan menemukan banyak sekali hal, baik itu cara berpikir, karakter, kebiasaan, kekuatan maupun kelemahan yang perlu diperbaiki dan disesuaikan satu dengan yang lain. Pada prakteknya, proses ini seringkali diwarnai dengan konflik-konflik dan berbagai peristiwa yang seringkali dapat menyakiti kedua belah pihak,  disinilah ketulusan hati dari setiap pribadi yang terlibat di dalamnya menjadi sangat penting.

Ketulusan hati membuat kita rela untuk berkorban demi kebaikan bersama. Banyak sekali kehancuran bahtera rumah tangga disebabkan karena suami / istri tidak lagi rela untuk berkorban bagi pasangannya. Memang menyakitkan jika kita harus berkorban bagi kelemahan dan kekurangan pihak lain, terlebih jika kita bahkan dituntut untuk menyesuaikan / berubah terlebih dahulu, hal ini tentu mustahil dilakukan jika tanpa hati yang tulus.

Ketulusan hati disertai dengan iman percaya bahwa Tuhan senantiasa ada bersama kita untuk memberikan kebaikan, membuat kita mampu melewati konflik-konflik dan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dengan selalu memiliki pengharapan bahwa hal itu akan berlalu dan akan digantikan oleh hal yang baik. Dengan memiliki pengharapan yang demikian maka kita akan dimampukan untuk terus mempertahankan keutuhan bahtera rumah tangga kita.

4. Berdoa

Hal keempat yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan dalam membangun dan menjalankan bahtera rumah tangga adalah hal berdoa. Di dalam doa kita diberi kuasa untuk menghancurkan dan merobohkan serta untuk membangun dan membangkitkan. Apa yang kita ikat di dunia ini akan terikat di sorga, dan apa yang kita lepaskan di dunia akan terlepas di sorga.( Mat. 18:18 ) Tuhan telah memberikan kepada kita suatu hak khusus sebagai anak-anaknya untuk datang dan bersekutu dengan-Nya di dalam doa. Ini merupakan hak yang sangat istimewa dan memiliki kuasa yang sangat luar biasa, sebagaimana Sundar Singh, seorang pahlawan doa dari India berkata,”Doa membuat segala sesuatu menjadi mungkin bagi orang-orang yang mengetahui bahwa tanpa doa segala sesuatu tidak mungkin terjadi.”

Dalam prakteknya, banyak pasangan suami istri agak kebingungan dalam hal berdoa di dalam keluarga, muncul beberapa pertanyaan tentang bagaimana melakukannya, apakah secara pribadi, berdua dengan pasangan, atau bersama-sama dengan anak-anak, serta pertanyaan apakah harus dalam jam-jam yang teratur ataukah spontanitas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, sesungguhnya adalah bahwa tidak ada formula yang khusus harus secara bagaimana doa dilakukan. Semuanya dapat dan disarankan untuk dilakukan, baik berdoa secara pribadi, berdua dengan pasangan, ataupun bersama-sama dengan anak-anak, dari segi jam-jam doa, baik secara teratur maupun spontanitas dapat dilakukan secara kombinasi. Ketika keluarga berdoa bersama-sama secara intens, ada satu hal penting yang terjadi yang seringkali tidak disadari oleh seluruh anggota keluarga, yaitu bertumbuhnya kebersamaan dan kesehatian ditengah-tengah keluarga. Ini merupakan bonus yang sangat positif yang menjadi kekuatan dalam menjaga keutuhan rumah tangga.

Keempat hal yang telah saya jelaskan di atas memang bukanlah satu-satunya cara terbaik untuk menjalani kehidupan rumah tangga, akan tetapi jika kita mau mengerjakannya, maka saya percaya bahwa kualitas kehidupan keluarga kita akan menjadi lebih baik, sehingga dengan demikian bahtera rumah tangga kita-pun akan semakin kokoh dan tetap berlayar untuk menuju ke tujuan.

Salam damai selalu….., Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

One Response to Shalom Family (part.2)

  1. Mas Ben berkata:

    Untuk membina keluarga yang kekal memang tidak cukup dengan cinta saja. Sangat diperlukan komitmen untuk mendukungnya 🙂

    Halo Pak, apa kabar ?

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: